Minggu, 30 Juni 2013

Jenenge Turunane Kewan

  • Turunane ayam biyasa + ayam kate
    Jenenge Wareng
  • Turunane ayam biyasa + ayam alas
    Jenengane Bekisar
  • Turunane ayam biyasa + ayam bekisar
    Jenenge ayam bekikuk
  • Turunane bebek + mentok
    Jenengane brati
  • Turunane jaran + kuldi
    Jenengane bihal

Jenenge Gaman Kewan

    • Gamane ayam jago : Cucuk, jalu
    • Gamane asu : Siyung, kuku
    • Gamane gajah : Gadhing, tlate
    • Gamane jaran : Sikil
    • Gamane kebo, sapi : Sungu
    • Gamane kidang, wedhus : Sungu
    • Gamane kombang, tunggeng : Entup
    • Gamane tawon, kalajengking : Entup
    • Gamane landhak : Wulu eri
    • Gamane lele : Patil
    • Gamane macan, kucing, singa : Kuku, siyung
    • Gamane tikus : Kuku, untu
    • Gamane tikus clurut, rase : Ganda
    • Gamane ula : Wisa
    • Gamane warak (badhag) : Cula
    • Gamane yuyu, kepiting : Capit

Sabtu, 29 Juni 2013

Sebutane Wit

  • Wit aren
    Jenenge Ruyung
  • Wit gedhang
    Jenenge Debog  
  • Wit jagung
    Jenenge Tebon
  • Wit jambe
    Jenenge Pucang
  • Wit kacang
    Jenenge Rendeng
  • Wit kapuk
    Jenenge Randhu
  • Wit krambil
    Jenenge Glugu
  • Wit mlinjo
    Jenenge So, bego
  • Wit pari
    Jenenge Damen
  • Wit pohong
    Jenenge Bonggol
  • Wit pring enom
    Jenenge Bung
  • Wit pring tuwa
    Jenenge Bungkilan
  • Wit siwalan
    Jenenge Tal, bogor
  • Wit tela
    Jenenge Lung          

Sebutane Mangan

  1. Mangane asu, babi : Nocok
  2. Mangane baya : Nyaplok
  3. Mangane buta, diyu : Mbadhog
  4. Mangane celeng : Nggogos
  5. Mangane glathik : Nisil
  6. Mangane kebo, sapi : Nyenggut, nggayemi
  7. Mangane kethek : Ngrokoti, ngemil
  8. Mangane macan : Nggaglak
  9. Mangane pitik, manuk : Notol, nucuk
  10. Mangane singa : Mangsa
  11. Mangane tikus : Ngrikiti
  12. Mangane ula : Nguntal
  13. Mangane wedhus : Nyenggut, nggayemi
  14. Mangane wong : Buka, saur (wayah pasa), sarapan (wayah esuk), Madhang (wayah awan/sore), Menthong (watara awan lan sore)

Jumat, 21 Juni 2013

Mitos dan Legenda Nyai Rantansari, bumiayu



Sunan Amangkurat I dan wadya balanya memasuki suatu wilayah, dimana ia dan rombongannya dihadapkan pada suatu kejadian yang amat serius dan sangat membingungkan. Hal ini terjadi setelah rombongan masuk sebuah desa bernama “DAHA”.[3] Tanpa sebab musabab yang jelas, mendadak kuda penarik kereta kencana yang tidak lama telah melewati masa kritis, tiba-tiba terkulai lemas dan mati.
Bukan main sedihnya hati Gusti Sunan, terlebih Kyai Pancurawis yang merasa telah menyatu dengan kuda tersebut. Beberapa prajuritnya juga hilang tak berbekas seperti lenyap ditelan bumi. Dengan penuh rasa haru, dikuburkannyalah kuda itu di suatu tempat yang sekarang bernama KARANGJATI. [4] Agak lama Gusti Sunan dan rombongan berada di tempat tersebut. Ia telah mengalami beberapa peristiwa yang mengguncangkan hatinya. Ia sadar, jika ia telah lalai dalam menjalankan amanat sebagai Sultan Mataram sesuai dengan pesan dan petuah ayahanda dan kerabat keluarga kasultanan Mataram. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Allah SWT dan prajurit-prajurit yang masih setia kepadanya.

Kamis, 20 Juni 2013

Gilitugel


GILITUGEL! Demikian orang menyebut pertigaan jalan antara Jalan Diponegoro – AR. Hakim dan Sudirman di Kota Tegal. Pertigaan jalan tersebut merupakan jalur Tegal – Slawi dan Tegal – Jakarta.
Sepintas kilas pertigaan itu seperti tidak ada yang istimewa. Tiap hari perlintasan tersebut disibukan berbagai jenis kendaraan yang lewat di situ. Juga pada malamhari, tak sedikit di trotoar sebelah Timur dan Barat menjadi tempat warung lesehan temporer terutama di sebelah Barat. Tapi cobalah menorobos ke dalam terowongan waktu kilas balik pada peristiwa yang pernah terjadi, betapa memedihkan lahirnya asal-usul Gili Tugel!
Tragedi memedihkan itu ditandai ketika dua adipati gugur dalam adu tanding. Antara Adipati Martoloyo dari Kadipaten Tegal dan Adipati Martopuro dari Kadipaten Jepara, saling tikam dengan sebilah keris hingga keduanya berakhir tragis, mati sampyuh.
Akhir tahun 1670 – dan berakhir beberapa saat sebelum Amangkurat I meninggal tahun 1677, situasi Mataram kacaubalau dengan merebaknya perang saudara yang luar biasa.
Atas kekacauan itu, Amangkurat I kewalahan sampai dia pun menyingkir ke arah Barat karena Mataram dikuasai Trunojoyo, namun kekacauan terus berlanjut membabi-buta. Dalam kebingungan, Amangkurat I bersekutu dengan VOC untuk meredam kekacauan yang menggila. Dengan campur tangan VOC, perang berakhir. Namun setelah perang saudara usai, justru disinilah awal dari segala persoalan panjang bernama penjajahan. Karena atas jasanya meredakan kekacauan di tlatah Mataram, VOC meminta bayaran yang teramat mahal dan tak mungkin terbayarkan oleh pihak kerajaan. Inilah yang menjadi beban Amangkurat I hingga akhir hayatnya.
Pemerasan VOC terhadap kerajaan Mataram, berlanjut sampai kerajaan dipegang oleh Amangkurat II. Dia menjadi bingung karena harus melunasi ‘hutang’ yang tertunda kepada VOC. Padahal pascakerusuhan, kas Kerajaan kosong dan nyaris bangkrut. Dalam kebingungan yang memuncak, Amangkurat II terpaksa merelakan wilayah pesisir tara Jawa dikuasai oleh VOC. Kendatipun mereka tetap membayar uang sewa tiap tahunnya, tetapi tidak VOC pernah mengembalikan wilayah pesisir utara kepada kerajaan. Hal ini membuat Mataram kehilangan pendapatan penting, dan Jawa Tengah terisolasi dari Negara-negara Asia Tenggara lainnya. Komunikasi dengan usat-pusat studi di Asia Selatan menjadi sulit, dan kian meningkatnya ketergantungan terhadap Belanda. Adipati Martoloyo yang saat itu memimpin Kadipaten Tegal termasuk salah satu adipati yang tak patuh pada rajanya. Ia selalu membangkang untuk tidak memberikan upeti pada Mataram. Padahal daerah kekuasaan Martoloyo telah diperluas dari pantai Jepara ke Barat hingga wilayah Tegal, Brebes dan Losari.
Dalam pandangan Martoloyo, Amangkurat II itu benar-benar berhamba betul pada Belanda. Karena itu dia tak mau membayar pajak, dan ini yang menyebabkan hubungan antara bawahan dan rajanya semakin besitegang. Tapi pihak Belanda tak kurang akal.. Hatta, dibawah Gubernur Jendral Mr Maetsuyke, dia mengutus Laksamana Cornelis Speelman dari VOC untuk menemui Amangkurat II. Tujuannya bagaimana melenyapkan Martoloyo. Adipati Tegal yang paling kocolan dan pembangkang selalu bersitegang dengan rajanya.
Politik devide et impera yang kemudian digunakan Belanda ntuk melenyapkan Adipati Martoloyo, dijalankan. Caranya, Amangkurat II diperintahkan untuk menggelar pertemuan agung para adipati se-Jawa bertempat di Kadipaten Jepara. Topik utama diagendakan, adalah penandatananan ‘Naskah Kerjasama’ dengan imbalan tanah-tanah milik Kerajaan Mataram.. Maka pada tanggal 17 Januari tahun1678 berlangsung acara itu, dihadiri semua adipati termasuk Adipati Martoloyo dan Martopuro.
Nyatanya, Martoloyo yang memiliki kuat prinsip, menentang keras kesepakatan itu dan menolak untuk berkerjasama. Dia pun mutung dan akhirnya menyingkir meninggalkan pertemuan agung. Kesempatan itu dipakai oleh Belanda untuk menekan Amangkurat II agar menangkap Martoloyo.
Amangkurat II tahu, kalau kesaktian Martoloyo itu tak tertandingi. Satu-satunya adipati yang mampu bertarung melawan Martoloyo, cuma Martopuro yang memiliki kesaktian dari satu guru dan satu ilmu.
“Adipati Martopuro, susul Martoloyo sekarang juga. Hadapakan kepadaku hidup atau mati” printah Amangkurat II.
“Inggih Sinuhun Amangkurat, perintah Sinuhun siap hamba laksanakan”
Seperti kerbau dicocok hidungya, Adipati Martopuro bergegas menjemput Martoloyo. Sesampai dihadapan Martoloyo, ternyata Martopuro tak mampu menyatakan maksud tujuannya. Tapi Martoloyo tahu apa yang ingin diutarakannya. Oleh karenanya Martoloyo memberi nasehat. Namun bukan kebulatan yang dicapai, melainkan meruncingnya perselisihan diantara keduanya memicu perang tanding. Keduanya saling tikam dengan menggunakan pusaka keris sakti. Martoloyo mati karena tikaman keris Ki Kasur, sedang Martopro mati karena tikaman keris Ki Sepuh.
Geger kematian kedua adipati, tercium oleh Gendowor. Plekatik Martoloyo yang setia itu bergegas meninggalkan tempat dimana dia bekerja sebagai pencari rumput untuk kuda majikannya. Dengan sabit ditangan, perasaan gerah dan dongkol, dipacu kencang kuda tunggangannya menuju pendopo. Di sana dilihatnya rakyat Tegal berjubel-jubel. Gending lara tangis bertalu-talu. Begitu menyayat ulu hati.
Turun dari kuda, bergegas Gendowor berjakan menuju pendopo. Langkah Gendowor tergopoh-gopoh dan betapa terkejutnya ketika mendapatkan majikannya telah tewas di samping Adipati Martopuro dengan bercikan darah di mana-mana. Sebagian mengering, sebagiannya lagi bau anyir darah segar menyengat hidung.
Di sisi mayat majikannya, Gendowor bersimpuh. Ia berjanji akan menumpas semua Kompeni Belanda. Maka dipacu kuda tunggangannya memburu orang-orang Kompeni. Orang-orang Kompeni yang berpapasan dengannya ditebas batang lehernya. Puluhan kepala bergelimpangan dan darah berceceran. Tempat pemengalan kepala itu terjadi di pertigaan Gilitugel.
Peristiwa lain yang tak kalah tragisnya, juga terjadi di pertigaan jalan itu. Pada abad 18, sewaktu Mr Herman William Daendels membuat jalan raya sepanjang 1000 Km dari Anyer sampai Penarukan, banyak rakyat pribumi menjadi korban akibat kerja rodi, termasuk rakyat Tegal yang tanahnya dilalui proyek pembuatan jalan. Saat itu, Bupati Tegal yang dipimpin RM Tumenggung Panji Haji Cokronegoro setiap hari dibikin repot, karena harus menyediakan 1000 orang untuk kerja paksa. Oleh karenanya, ia sangat prihatin dan sedih. Tidak sedikit rakyat yang kurang patuh harus mendapat hukum pancung. Hampir setiap hari, Bupati Tegal menyaksikan peristiwa yang memedihkan itu. Tempat pelaksanaan hukuman pancung bagi yang menentang kerja rodi, terjadi di pertigaan jalan itu. Sejak itu, rakyat Tegal menamai jalan tersebut sebagai ‘Gilitugel’, asal-muasal dari kata ‘Gulu Tugel’. Dalam bahasa Jawa, ‘Gili’ artinya ‘jalan’. Sedang kata ‘Tugel’ artinya ‘Putus’.
Begitulah lahirnya pertigaan jalan yang disebutkan di atas. Oleh warga masyarakat, peristiwa itu disebut sebagai tragedi ‘Gilitugel’

Kamis, 13 Juni 2013

Legenda Paguyangan



Perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini kembali Gusti Sunan harus menelan pil pahit. Betapa tidak, kuda penarik kereta kencananya mendadak jatuh tersungkur terkulai tak berdaya. Berbagai cara ia lakukan untuk dapat mengembalikan kondisi kudanya. Hal tersebut terutama dilakukan oleh Kyai Pancurawis, dimana Kyai Pancurawis terkenal sebagai abdi keraton yang memiliki daya linuwih yang cukup tinggi. Di tengah suasana keprihatinan itu, Gusti Sunan beserta rombongannya beristirahat sembari menunggu hasil laku tapa yang dilakukan oleh Kyai Pancurawis di sebuah tempat petilasan Senopati Linduaji (yang dulu pernah menjadi spionase ayahandanya, Sultan Agung). Tempat tersebut sekarang dikenal dengan sebutan Curug Pereng dekat mata air Kali Pemali Desa Winduaji Kecamatan Paguyangan. Sementara tempat peristirahatan Sunan Amangkurat I di kawasan tersebut sekarang dikenal dengan nama Desa Pesanggahan (yang berarti tempat singgah ; sanggrah).