Kamis, 05 September 2013

ASAL-USUL SELOMANIK



            Selomanik berasal dari dua suku kata,  ‘Selo & Manik’. Selo berati batu dan Manik berarti permata. Dinamakan demikian karena di wilayah Selomanik terdapat dua buah batu besar yang konon menjadi pertapaan seorang tokoh Selomanik yang akan kita bahas di bawah ini. Dalam sejarah berdirinya Kadipaten Wonosobo tertulis bahwa cikal bakal Wonosobo bermula dari suatu kadipaten di wilayah Selomanik. Dimana bahwa pimpinan daerah Selomanik adalah Kanjeng Raden Tumenggung ( KRT ) Kertowaseso.
            KRT Kertowaseso adalah seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang setia ikut dalam perang gerilya. Untuk lebih jelas mengetahui sejarah siapa KRT Kertowaseso mari kita menelusuri latar belakang KRT Kertowaseso.

            KRT Kertowaseso adalah seorang Tumenggung di dalam struktur pemerintahan keraton Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada saat dalam intern keraton terjadi kemelut, akibat kebijakan Patih Danurejo yang lebih condong berpihak pada VOC. KRT Kertowaseso menempatkan dirinya pada kubu Pangeran Diponegoro. Kemelut semakin meruncing dengan kesewenang-wenangan VOC/Belanda mencampuri urusan internal keraton, menghentikan aturan sewa tanah para bangsawan kepada pengusaha-pengusaha Belanda, mengenakan pajak tinggi terhadap rakyat. Dan yang terakhir, pembuatan jalan tembus Magelang – Jogja yang melewati dengan membuat patok-patok di atas tanah makam leluhur tanpa seizin pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pengikutnya yang marah kemudian membongkar patok-patok yang melewati makam leluhur Diponegoro. Akibat tindakan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya maka pada tanggal 20 Juli 1825 pada sore hari, VOC dan bala tentaranya menyerbu puri kediaman pangeran Diponegoro. Maka terjadilah peperangan di komplek sekitar puri, sang pangeran beserta prajurit-prajuritnya yang setia berhasil meloloskan diri dari blokade tentara Belanda.      Selanjutnya Diponegoro menyingkir ke arah selatan, dan menyusun kekuatan di sebuah goa, yang kemudian terkenal dengan goa Selarong. Sejak saat itu Pangeran Diponegoro menyerukan perang salib atau perang suci melawan kaum kafir Belanda. Ternyata seruan Diponegoro mendapat simpati dari banyak pangeran, bangsawan maupun rakyat Mataram yang selama ini sudah muak dengan kesewenang-wenangan Belanda yang membuat rakyat menderita. Seruan pangeran Diponegoro ternyata juga mendapat sambutan hangat dari kalangan ulama dan santri. Hal ini bisa mengerti, mengingat pangeran Diponegoro adalah seorang pangeran yang sejak kecil lebih menyukai kehidupan religius di pesantren, daripada hidup mewah didalam keraton. Beranjak dewasa sang pangeran banyak mempunyai sahabat dan menjalin hubungan akrab dengan kalangan ulama-ulama yang tersebar di penjuru Jawa. Jadi wajar jika seruan perang Diponegoro banyak mendapat sambutan hangat dan melibatkan laskar-laskar santri di seluruh wilayah Jawa.
            Kembali kepada sejarah KRT Kertowaseso. Setelah menyusun kekuatan dari goa Selarong, Pangeran Diponegoro segera memerintahkan para pengikutnya. Terutama para pangeran yang mahir dan mengetahui ilmu berperang untuk menyebar ke seluruh pedalaman Jawa. Tujuannya untuk menghimpun kekuatan dan menggalang dukungan dari para ulama/kyai di seluruh Jawa agar bangkit melawan kezaliman Belanda. Termasuk diantaranya kepada KRT Kertowaseso.     Pangeran Diponegoro memerintahkan kepada KRT. Kertowaseso untuk menghubungi Kyai Alwi atau Ali sahabatnya ( pada waktu itu orang Jawa biasa memanggil dan menyebut dengan “Kyai Ngalwi” ) di sebuah pesantren di lembah yang sekarang di namakan Kaliwiro. Kyai Alwi adalah seorang ulama yang diperkirakan berasal dari daerah Jawa Timur. Beliau datang untuk berdakwah mengajarkan dan menyebarkan agama Islam di daerah ini. Mengenai latar belakang beliau, tidak bisa diketahui secara pasti. Karena memang sangat sedikit, bahkan bisa di katakan tidak ada sejarah dan literatur yang mengetahui latar belakang sejarah Kyai Alwi. Jejak sejarah Kyai Alwi hanya tertulis sejak beliau berhubungan dengan KRT Kertowaseso.
            Dengan segera KRT Kertowaseso berangkat menghubungi Kyai Alwi untuk memberitahukan seruan Diponegoro. Sampai di pesantren Kyai Alwi, KRT Kertowaseso mendapat dukungan untuk menghimpun dan membentuk laskar perang yang terdiri dari santri-santri kyai Alwi. Laskar-laskar ini sangat penting dan strategis untuk menunjang perang semesta rakyat Jawa. Disamping itu KRT Kertowaseso juga menempatkan daerah ini sebagai basis perlawanan dan rute gerilya Diponegoro. Mengingat kondisi alam daerah ini yang berupa hutan lebat berbukit-bukit penuh lembah lembah curam sangat menunjang untuk medan gerilya. Sehingga akhirnya pangeran Diponegoro pun juga bergerilya dan membuat basis perlawanan di daerah ini. Kemudian untuk menjaga eksistensi pesantren dari serbuan tentara Belanda, maka KRT Kertowaseso membuat markas prajurit di sebuah desa di lereng gunung Lawang.  Mengingat betapa pentingnya peran pesantren dalam pendidikan agama maupun untuk kaderisasi laskar. Maka perlu dihindarkan keterlibatan pesantren dalam konflik secara langsung, di dalam perang melawan Belanda.
Penempatan markas laskar di desa lereng gunung Lawang ini kemudian menjadikan KRT Kertowaseso terkenal dengan sebutan Ki Ageng Selomanik. Sehingga daerah ini kemudian hari terkenal dan di namakan Selomanik. Hingga pada akhirnya atas perintah Diponegoro, KRT Kertowaseso membentuk sebuah kadipaten untuk mempermudah menghimpun laskar rakyat. Dalam perjalanan sejarahnya, kadipaten Selomanik kemudian menjadi cikal bakal berdirinya kadipaten Wonosobo. Sampai pada akhir hayatnya KRT Kertowaseso atau Ki Ageng Selomanik tetap menetap di daerah tersebut dan di makamkan di desa tersebut. Tidak diketahui secara pasti sebab musabab meninggalnya Ki Ageng Selomanik. Meninggal karena sakit atau terbunuh dalam perang..? Tidak ada sejarah yang menuliskan peristiwa itu. Makam beliau hingga sekarang masih terawat dengan baik dan menjadi salah satu agenda ziarah di setiap hari ulang tahun Wonosobo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar