Kamis, 25 Juli 2013

TERJADINYA DESA KANDANGAN



            Pada tahun 1985 Pangeran Diponegoro menentang penjajahan Belanda. Pertempuran ini menewaskan delapan ribu orang Eropa dan tujuhribu penduduk pribumi. Dalam peperangan ini Belanda mengeluarkan biaya hingga 20.000.000 gulden . Peperangan ini bermula dari perbuatan semena –mena Residen Belanda dan Patih Danurejo di Yogyakarta . Tanpa berunding dan memberitahu lebih dahulu kepada Pangeran Diponegoro ,Patih Danurejo telah memerintahkan membuat jalan melintasi pekarangan rumah pangeran Diponegoro dengan menancapkan tiang-tiang pancang. Karena hal inilah pangean Diponegoro tersinggung dan menyalah api peperangan Tegalrejo yang menjadi tempat penancapan tiang-tiang pancang untuk jalan “Jogalan”, masyarakatnya merasa dirugikan karena banyak tanah miliknya yang harus dielakan tanpa ganti rugi.

            Peperangan meletus dan akhirnya pasukan dari Pangeran Diponegoro berhasil menewaskan “anthek-anthek” Belanda Termasuk Patih Danurejo. Setelah patih Danurejo meninggal, terjadilah kevakuman pemerintahan Magelang sehingga dipilih seorang pengganti yang dipindah tempatkan dari Parakan. Namun, lama-kelamaan Arya Danukusuma, nama Bupati Kabupaten Magelang di Paakan ini meminta dipindahkan di kabupaten Menoeh( nantinya Temanggung). Lama-kelamaan Residen Kedu C.L. Hartman mengusulkan nama Kabupaten Menoreh menjadi Kabupaten Temanggung, dan pada 28 Oktober 1834 Majlis Hindia menyetujui ususlan penggantian nama ini. Karena di kabupaten inilah Bupati dan Pemerintahan Eropah bertempat tinggal.  Perekonomian di Kabupaten Temanggung berkembang pesat, terutama pertanian dan peternakan. Namun, tiba-tiba terjadi lagi peperangan di Solo yang menyebabkan bebeapa orang petinggi dari Solo terpaksa melarikan diri karena dikejar-kejar pasukan Belanda. (tepatnya setelah Raden Patah wafat) dan terdesak di daerah Temanggung hingga ke sebuah hutan lebat (namanya menjadi desa Kandangan). Akhirnya petinggi Solo yang terdesak itu menetap dan membuat sebuah dusun/perkampungan.
Karena petinggi Solo itiu tak diketahui dengan jelas namanya, maka dipanggillah dengan sebutan “Kyai Kampung”. Karena Temanggung perekonomiannya berkembang pesat dan jalur perdagangannya melalui desa ini belum diberi nama, maka disebutlah desa ini sebagai desa persinggahan pedagang (pedagang hewan ternak kebanyakan) ketika paa pedagang kamalaman untuk mencapai Kota Temanggung. Pada umumnya pedagang-pedagang itu menitipkan tenaknya kepada Kyai Kampung, sehingga tempat tinggal Kyai Kampung lebih mirip dengan kandang. Maka, terkenallah tempat tinggal /dusun persinggahan Kyai Kampung ini sebagai Desa Kyai Kandang.  Tahun demi tahun berlalu, perdagangan di Temanggung, Desa Kyai Kampung khususnya, semakin besar, sehingga penitipan hewan ternak para pedagang yang singggah pun semakin banyak, dan semakin bertambah pula kandang yang harus dibuatoleh Kyai Kandang, karena tempat tinggalnya tidak bias lagi dimuat ternak-ternak itu. Semakin banyak waktu yang dilalui tentu saja semakin lanjut usia Kyai Kampung. Kyai Kampung akhirnya sakit dan meninggal dunia di desa perkampungan ini. Jasad beliau dimakamkan di Desa Kyai Kandang sebelah barat.
            Untuk mengenang jasa kyai yang membangun desa itu, maka disebutlah desa Kyai Kandang sebagai Desa Kandangan dengan kandangnya yang banyak. Sayangnya setelah Kyai kampung meninggal dunia perdagangan mulai menurun bahkan tak ada. Generasi ke generasi berganti dan legenda Kyai Kampungpun terlupakan meskipun makamnya masih ada dan namanyapun telah dijadikan nama desa. Namun, karena tak diketahui pasti nama asli sang Kyai Kampung beserta seluuh peninggalannya tak ditemukan, kecuali makam tak terurus, maka terlupakanlah legenda itu. Desa Kandangan semakin banyak penduduk, lahan-lahan hutan berkurang, sawah dan pemukiman memenuhi hutan yang telah ditebangi. Hamper tak ada yang ingat kejadian desa kandangan ini. Puluhan tahun legenda desa ini terlupakan, tak ada yang memperdulikannya. Bahkan keadaan makam Kyai Kampung pun terlupakan. Tak berbentuk suatu makam leluhur yang dihormati karena hanya berwujud tanah rata yang diberi nisan batu bata, berlumut, tanpa nama, tahun, dan asal usul yang jelas.
Masyarakat hanya menganggapnya batu bertumpuk saja. Sekeliling makam dibangun beberapa rumah. Sebelah selatan rumah penduduk (sesepuh desa), sebelah barat dan utara rumah anak-anaknya, sebelah timurnya berupa hutan/kebun tak terurus. Sedangkan sebalah baat daya makam itu adalah tempat MCK (waktu itu makam itu belum diketahui). Suatu ketika sang penduduk yang tinggal di sebelah selatan makam yang bernama Bapak Parmin mendapatkan seorang putra. Ketika sang bayi mencapai empat bulan, Pak Parmin merasakan badannya begitu kelelahan sepulang dai sungai. Beliau berjemur di depan rumahnya, membelakangi makam bekebalikan dengan arah MCK yang menghadap makam. Tengah santainya Pak Parmin duduk berjemur, datanglah sosok laki-laki berperawakan laki-laki pada umumnya dengan jalan yang berwibawa. Mengambil posisi sujud sebanyak 3 kali di hadapan Pak Parmin.
 Pak Parmin tertegun tak berkedip, tiba-tiba orang itu bertanya pada Pak Parmin “kamu yang tinggal di tempat ini?” sampai 3 kali laki-laki itu bertanya barulah Pak Parmin menjawab “Iya, Bapak ini siapa? Dari mana? Ada apa?” laki-laki itu tertawa dan menjelaskan semua legenda Kyai Kampung. Ia mengaku sebagai abdi/utusan dari Kyai Kampung untuk menyampaikan beberapa pesan pada warga Kandangan. Laki-laki itu berpesan aga warga tidak membuat WC/MCK menghadap makam, rubahlah agar tidak membuat Kyai Kampung tersinggung. Laki-laki itu juga memperlihatkan pada pak Pamin bahwa batu bata berlumut yang sejajar itulah makam Kayai Kampung. Ia berpesan agar warga membersihkan makam itu seminggu sekali setiap hari jumat. Konon, kata pak Parmin ketika diperlihatkan makam Kyai Kampung dangan laki-laki misterius tadi, terdapat sebuah keis dan tombak menyandar di batu nisan itu. Namun setelah laki-laki itu bepaling, dua benda pusaka itu tak terlihat lagi. Laki-laki itu mengatakan bahwa dua benda pusaka itu akan tetap beada di tempatnya.
Begegas pak Parmin minta izin untuk merawat(mempebaiki), namun laki-laki itu melarangnya dengan alasan bahwa Kyai Kampung belum mengizinkan. Lagipula saat pak Pamin menanyakan siapa nama Kyai Kampung yang sebenanya dan kapankah makam harus dirawat, laki-laki itu menjawab “saat aku kembali lagi menemuimu dan saat itulah akan kuberi tahu nama Kyai”. Sampai sekarang nama Kyai Kampung belum diketahui. Konon katanya ruhnya kini berada di Kedu. Pesan-pesan laki-laki misterius itu masih sealalu dilaksanakan oleh pak Parmin. Bahkan pada saat Jumat kliwon selalu ada acara sadranan di makam itu. Menuut ceita, sudah ada empat orang yang betapa selama 40 hari 40 malam minta agar diizinkan mendapatkan keris Kyai kampung yang dapat menjelma menjadi harimau aksasa yang bias terbang itu, tapi tak diizinkan kyai kampung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar