Kamis, 03 Maret 2011

ASAL-USUL KEBUMEN



Sejarah awal mula adanya Kebumen tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Mataram Islam. Hal ini disebabkan adanya beberapa keterkaitan peristiwa yang ada dan dialami Mataram membawa pengaruh bagi terbentuknya Kebumen. Disamping itu memang daerah yang kemudian jadi Kebumen adalah masih di dalam lingkup Mataram. Di dalam struktur kekuasaan yang memiliki kawasan daerah: Negara Agung, Kuta Negara, Manca Negara dan daerah Bang Wetan serta Bang Kulon. Lokasi Kebumen termasuk di daerah Manca Negara Bang Kulon. Semenjak belum ada nama Kebumen, daerah ini tepatnya di Karanglo, sudah terdapat penguasa Kademangan di bawah Mataram (Zaman Panembahan Senopati sekitar tahun 1584).

Cucu Panembahan Senopati yakni KI Maduseno (putra perkawinan Kanjeng Ratu Pembayun dengan Ki Ageng Mangir VI), disembunyikan dan dibesarkan di Karanglo. Pada tahun 1606 Ki Maduseno kawin dengan Dewi Majati, kemudian berputra KI Bagus Bodronolo. Ia adalah murid Sunan Geseng dari gunung Geyong. Dan pada waktu Sultan Agung dari Mataram mencari lumbung pangan untuk pasukannya menyerbu Batavia.Ki Bagus Bodronolo membantukan lokasi dan pengumpulan pangan dari rakyat desa dengan jalan membeli. Pada tahun 1627 prajurit Mataram berdatangan ke lumbung padi Ki Bodronolo yang kemudian daerah itu dinamai Panjer. Ki Buwarno utusan dari Mataram yang diminta mencari lumbung itu kemudian dijadikan Bupati Panjer yang bertugas sebagai pengadaan logistic bagi prajurit Mataram. Ki Bagus Bodronolo yang sebetulnya cicit P anembahan Senopati ternyata dapat menampakkan kesatriannya. Kemudian ikut dikirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan.
Oleh karena itu daerah Panjer (sekarang masuk Kebumen) sudah dikenal sejak zaman Sultan Agung berkuasa. Dalam penyerbuan ke Batavia (1628-1629) . Namun daerah itu belum diberi nama Kebumen, masih bernaman Panjer. Yang penting perlu dicatat bahwa daerah ini merupakan tonggak patriotic dalam melawan Belanda sejak jaman Sultan Agung.
  1. Mataram pada Zaman Sultan Agung Hanyokro Kusumo
Sultan Agung Hanyokro Kusumo mulai memerintah Mataram pada tahun 1613 sampai tahun 1645. Selama 32 tahun itu, menunjukkan bentuk sebagai kerajaan besar dan mencapai keemasannya. Sultan Agung Hanyokrokusumo Kalifatullah Sayidin Panatagama, telah berhasil meletakkan dasar falsafah ideology Negara dengan nama "sastra gending". Disamping ittu, telah diwujudkan Undang-Undang Negara (Paugeran Negeri, Struktur kerajaan dan wilayah yang sudah diatur) lengkap dan rapi serta angkatan perang yang cukup kuat.
Pada pemerintahan Sultan Agung memiliki lembaga tinggi Negara yang dinamai Dewan Parampara, tugas dan fungsinya sebagai penasehat Raja/Sultan. Anggota Dewan Parampara itu terdiri : Keluarga Raja yang berusia tua, Sesepuh dan para Ulama. Sultan Agung sebelum bertindak selalu mengadakan konsultasi dengan dewan Parampara. Dalam hal ini ada seorang tokoh Saudara Sultan Agung yang juga Ulama yang duduk pada dewan Parampara, yaitu bernama Kyai Bumidirja. Kyai Bumidirdka ini yang nantinya sebagai cikal bakal nama Kebumen.
Sultan Agung memerintah Mataram dengan Bijak, berusaha menegakkan Agung Binathara, wenang wasesa ing sanagari, namun juga berbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta. Artinya menumbuhkan kewibawaan dengan Agung sebagai penguasa tertinggi, namun juga punya sifat sabar berbudi luhur dan adil kepada semua insane. Adanya keseimbangan yang harmonis antara kekuasaandan keadilan, serta bermusyawarah dalam nenetapkan sesuatu. Hal ini menjadikan Mataram menjadi tentram dan semakin besar serta rakyatnya makmur.
Menurut catatan perjalanan Rijklof Van Goens yang lima kali mengunjungi Mataram selama Sultan Agung disebutkan :
"Mataram dibawah Sultan Agung bagaikan sebuah imperium Jawa yang besar dengan rajanya yang berwibawa. Istana Kerajaan yang besar dijaga prajurit yang kuat, kereta sudah rama, rumah penduduk jumlahnya banyak dan teratur rapi, pasarnya hidup, penduduknya hidup makmur dan tentram. Kraton juga punya penjara, tempat orang-orang jahat pelanggar hukum dan tawanan untuk orang Belanda yang kalah perang di Jepara"
Pada Jaman sultan Agung inilah telah dikenal secara resmi adanya sebuah daerah lumbung pangan (padi) di Panjer, yang kemudian dijadikan Kabupaten Panjer di bawah kekuasaan Mataram. Sebagai Bupati yang pertama ialah Ki Suwarno (dulunya utusan Mataram yang mencaro daerah lumbung padi sebagai logistic pasukan Mataram).
  1. Mataram pada jaman Amangkurat I
Amangkurat I memerintah Mataram mulai tahun 1645 sampai dengan 1677. Dikenal dalam babad maupun sumber arsip daerah Belanda. Bahwa kekuasaan Amangkurat I sangat berbeda dengan Sultan Agung. Sunan Amangkurat I lebih mengutamakan kekuasaan dengan kekerasan dan tidak kenal musyawarah serta kompromi. Dewan Parampara penasehat raja di hapus, pengadilan agama dihapus. Ia berjalan menurut kehendak sendiri. Perbedaan lain dengan Sultan Agung adalah Amangkurat I lebih suka bersahabat dengan VOC (Belanda). Pada tahun 1646 menjalin persahabatan dengan VOC yang dulunya musuh besar Mataram.
Ketentraman dan keharmonisan kehidupan rakyat jaman pemerintahannya jadi uyar, muncul beberapa kritik dan nasehat kepada raja, yang datangnya dari keluarga raja sendiri, Laim Ulama dan masyarakat umumnya. Namun raja amangkurat I tidak mau menerima nasehat dan kritik, justru yang dijalankan adalah membunuh siapa saja yang menentang kebijaksabaab Sunan Amangkurat I.
Pada jaman amangkurat I banyak terjadi intrik-intrik, misalnya antara lain: Pembunuhan Panegran Alit (adiknya sendiri) yang tidak setuju adanya kompromi dengan Belanda. Membunuh 6000 Ulama dan keluarganya, karena para tokoh agama itu sering menasehati raja dan tidak setuju raja yang bersahabat dengan Belanda. Kasus rebutan perempuan (Roro Oyi), Sunan Amangkurat I berebut dengan putranya Adipati Anom, sehingga terjadi pembakaran ndalem Mangkubumen, dan masih banyak lagi.
Pamanda Sunan Amangkurat I yang bernama Kyai Pangeran Bumidirja yang juga disebut Panembahan Bumidirja, merasa berkewajiban memberi nasehat kepada keponakannya, apalagi ketika Sunan Amangkurat I akan membunuh Pangeran Pekik dengan Tumpes Kelor seluruh keluarganya. Rencana itu didengar Pangeran Bumidirja, yang kemudian mengajukan nasehat dan keberatan tindakan raja. Sunan Amangkurat I tidak bisa menerima nasehat itu, bahkan marah dan akan menjatuhi hukuman kishos untuk Kyai P. Bumidirja. Namun berita itu, telah didengar pula oleh Kyai Bumidirja. Kemudian ia bersama isitrinya keluar dari Kraton Mataram dan meloloskan diri kea rah barat. Nantinya Kyai Pangeran Bumidirja ini yang mendirikan daerah baru, kemudian daerah itu diberi nama Karang Kenbumian, jadilah nama daerah KEBUMEN.
Meskipun sunan AMangkurat I selalu berupa mencari Kyai Pangeran Bumidirja, namun utusnannya tidak pernah kembali, dean selalu ikut bergabung menasehati oleh karena itu tindakannya semakin kejam. Kekejaman yang dilakukan Sunan Amangkurat I ternyata membawa dampak adanya ketidak harmonisan kekuasaan raja dengan kehidupan rakyatnya. Dampak ini menggoyahkan konsep kekuasaan Jawa yang telah dibina oleh Sultan Agung. Oleh karena itulah timbul keberanian rakyat, kaum bangsawan dan ulama untuk menentang raja Sunan Amangkurat I.
Kyai Kajoran, seorang ulama yang juga masih keturunan Panembahan Senopati, mulai menghimpun kekuatan untuk menghancurkan Sunan Amangkurat I, Kyai Kajoran yang juga disebut Panembahan Bama dibantu oleh Pangeran Purbaya, Adipati Anon (Paman Sunan Amangkurat I) dan Trunojoyo (bangsawan dari Madura dan Menantu Kyai Kajoran),serta dibantu oleh sebagian prajurit mataram yang membelot, mengadakan serangan ke Kraton Mataram. Dalam perang itu Sunan Amangkurat I menderita kekalahan. Kemudian melarikan diri ke arah barat, menuju Batavia untuk minta bantuan VOC (Belanda). Peristiwa itu terjadi pada tanggal 18 Sapar tahun 1600 Saka, sinengkalan Sirna ilang rasaning bhumi, bertepatan pada hari Sabtu legi, malam Ahad Pahing tanggal 2 Juni 1677.
Lingsir atau jatuhnya tahta Sunan Amangkurat I ini juga dapat dihubungkan dengan kisah Kebumen, yaitu Panjer pada tanggal 26 Juni 1677 rombongan Sunan Amangkurat I sampai di daerah Panjer. Dan singgah di rumah Ki Gede Panjer III. Kebetulan malam itu hujan lebat. Sunan Amangkurat I minta minum air degan (air kelapa muda). Namun KI Gede Panjer ( Ki Kertowongso keturunan Ki Bagus Bodoronolo I/ Ki Gede Panjer) tidak dapat memetik Kelapa Muda, maka yang diberikan air kelapa tua kering (kelapa aking). Dengan minum air kelapa itulah Sunan Amangkurat I merasa segar dan sembuh sakitnya serta pulih kekuatannya. Atas jasa memberi minum kelapa aking itulah maka Ki Gede Panjer III diberi gelar Tumenggung Kelapa Aking I (Tumenggung Kalapaking I) di angkat jadi Adipati Panjer Pertama dan diberi istri anak Sunan Amangkurat I nomor 18 yaitu Dewi Mulat (Klenting Abang).
Setelah istirahat di Panjer, Sunan Amangkurat I dan rombongan mengadakan perjalanan lagi ke Barat namun sesampainya di Tegal Arung Sunan Amangkurat I wafat, dan disebut juga sebagai Sunan Amangkurat Tegal Arum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar