Jumat, 30 Agustus 2013

SEJARAH KALI KEROK




            Kali kerok berada di sebelah barat daya daerah desa precet. Dahulu kala di desa ini hidup seorang sultan. Sultan tersebut memiliki seokar kuda yang digunakannya sebagai alat transportasi sehari-hari. Kuda yang dimiliki oleh sultan ini berjenis kuda sembrani, kuda yang sangat hebat.

            Setiap seminggu sekali tepatnya pada hari selasa kliwon, sang sultan memandikan kuda ini di suatu sungai. Hal ini sudah dilakukannya selam kurang lebih tiga tahun. Suatu saat pada hari selasa kliwon, sang pangeran memandikan kudanya, semua kotoran-kotoran yang menempel pada tubuh kuda semua yang berasal dari alam sekitar  di bersihkan termasuk kotoran yang berasal dari tubuh kuda tersebut sendiri.


            Pada hari itu kotoran yang menempel pada tubuh kuda sangat banyak, sehingga sang sultan membutuhkan energi yang lebih untuk membersihkan kuda tersebut. Setelah bersih kuda tersebut di bawa pulang kembali. Karena terlalu lelah sang sultan sampai-sampai alat yang digunakan untuk menyikat kudanya lupa di bawa pulang. Sang sultan pun langsung bergegas mengambil kembali sikat tersebut ke sungai tersebut tetapi ternyata sikat tersebut sudah tidak ada, mungkin di bawa arus sungai. Oleh karena itu sungai itu di namakan sungai kerok yangt di asumsikan kerok adalah alat yang digunakan untuk menyikat tubuh kuda tersebut.Setelah beberapa tahun kemudian kuda sembrani tersebut mati tanpa diketahui sebabnya.

            Pada suatu saat salah satu penduduk desa precet mengetahui kebiasaan sang Sultan yang selalu memandikan kudanya di sungai tersebut. Dia sangat menginginkan kuda seperti kuda yang dimiliki sultan. Kuda sembrani yang sangat hebat serta diyakini dapat terbang. Akhirnya dia memutuskan untuk membersihkan/memandikan kudanya di sungai tersebut.

            setelah berhari-hari ternyata niatnya itu menghasilkan sesuatu yang sangat positif. Kuda miliknya tampak lebih baik, kuda itu tampak lebih hebat di bandingkan dengan kuda-kuda yang lain. Hal ini ditekuninya terus menerus.

            Kemudian kuda tersebut dikjawinkan. Dari hasil perkawinan ini melahirakan anak kuda yang menajubkan sekali. Kuda itu melahirkan tiga anak kuda, salah satu anak kuda tersebut memiliki kaki berwarna hijau yang istilahnya orang jawa adalah tracak ijo.

            Kabar berita ini di dengar oleh seorang ratu Yogyakarta, bahkan berita ini terdengar sampai ke luar jawa. Sang Ratu ingin sekali memiliki kuda ini, tetapi pemilik kuda ini tidak mau memberikannya. Bakhkan sang ratu mau menjanjikan hadiah uang yang sangat banyak, kedudukan yang terhormat, bahkan jaminan akan kehidupan keturunannya, tetapi pemilik kuda ini tetap tidak mau menyerahkan kuda miliknya. Tetapi jika tetap tidak mau diserahkan maka desa ini harus dinamakan desa nggajegan atau dawunan.

            Arti dari dawunan dan nggajegan sendiri adalah:

1.      Nggajegan

Adalah desa itu akan tetap seperti itu.

Nggajegan berasal dari kata ajeg yang berarti tetap.

2.      Dawunan

Adalah desa itu akan berubah jika mereka menginginkan sesuatu maka tidak akan tercapai.

Dawunan ini berasal dari kata wukan yang berarti gagal.

            Pemilik kuda itu tetap pada pendiriannya, dia tidak mau menyerahkan kudanya pada sang ratu, walau di bayar berapa pun.dia ingion merawat kuda itu sampai kuda itu mati. Setiap orang yang memiliki kuda dan medengar hal ini langsung membawa kudanya ke kali kerok tetapi setelah kuda itu di bawa pulang kuda itu mati. Akhirnya mereka sadar akan perkataan ratu, yang mengatakan bahwa apapun yang mereka inginkan tidak akan tercapai. Hal ini akan berlangsung samapai keturunan pemilik kuda yang ke tujuh.

            Desa precet ini di bagi menjadi dua dusun yaitu bagian atas disebut nggajegan dan precet bawah di sebut dengan dawunan.  Suatu hari orang pintar yang mengetahui hal ini berusaha menawarkan air di sungai kerok sehingga sungai ini tidak memiliki keajaiban lagi. Dulunya di sini terdapat batu lapak atau batu yang bertapak kuda dan batu kendang yang pada malam selasa kliwon mengeluarkan suara.
            Sungai ini oleh masyarakat desa setempat masih di anggap keramat. Setiap penduduk desa yang ingin mempunyai cara,dan ingin acara ini tetap berlangsung lancar maka orang tersebut harus menyembelih sapi atau kerbau  atau kambing yang kemudian kepalanya ditinggal di sungai tersebut. Dan setiap orang yang ingin melewati daerah ini harus mengatakan permisi terlebih dahulu jika tidak ingin mendapat bahaya. Karena sungai ini juga merupakan jalan penghubung dengan desa yang lainnya. Kebanyakan orang menyebut desa ini sebagai desa dawunan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar