Jumat, 05 Juli 2013

KI GEDHE SEBAYU

Ki Gede Sebayu merupakan keturunan trah Majapahit. Pada saat terjadi pergolakan perebutan kekuasaan beliau lebih memilih diam. Bahkan pada saat suasana makin kacau, Ki Ageng Ngunut (kakek Sebayu) mendesak Ki Gede Sebayu agar menyelamatkan Kerajaan Pajang. Namun, Ki Gede Sebayu menolak.
Melihat penderitaan manusia akibat perebutan kekuasaan antar keluarga itu tidak kunjung reda, Ki Gede Sebayu malah pilih pamit untuk menyingkir ke barat. Beliau melepas atribut kebangsawanannya dan mengembara mencari hakekat hidup. Sampailah beliau di sebuah daerah penuh ilalang, padang rumput luas dengan sungai besar yang dialiri air bening sampai muara laut utara. Beliau terperangah melihat hamparan padang rumput luas yang nyaris tak berpenghuni itu.

Di sana hanya ada beberapa bangunan semipermanen yang dihuni sejumlah santri dan sebuah makam keramat. Makam tersebut adalah tempat jenazah Sunan Panggung atau Mbah Panggung dikebumikan. Terbersitlah di dalam benak Ki Gede Sebayu untuk mengajari warga pesisir itu bercocok tanam. Beliau merasa menemukan persinggahan yang menjanjikan, sehingga menghentikan pengembaraannya. Diajaknya warga setempat membabat alang-alang agar jadi tegalan. Selain itu, beliau juga membuat bendungan di hulu sungai daerah Danawarih untuk dijadikan sumber air irigasi.
Sementara itu, Pangeran Benowo diangkat menjadi raja Pajang. Beliau membutuhkan sepupunya, yang tak lain adalah Ki Gede Sebayu, untuk menjadi patih. Pangeran Benowopun mengutus sejumlah prajurit untuk mencari Ki Gede Sebayu. Di Desa Tegal, tempat Sebayu bermukim, sepupu Pangeran Benowo itu ditemukan. Namun karena Ki Gede Sebayu tidak mungkin meninggalkan rakyat Tegal, maka Pangeran Benowo melantik beliau menjadi juru demang atau sesepuh Desa Tegal. Anugerah sebagai sesepuh desa diberikan pada malam Jumat Kliwon, 15 Sapar Tahun 988 Hijriah, atau tahun 588 EHE. Waktu itu bertepatan dengan 12 April 1580 Masehi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar