Selasa, 02 Juli 2013

JAKA BAHU



Pada jaman  dahulu,  Sultan Agung menyuruh puteranya Jaka Bahu untuk membuka hutan, Alas Roban.  Jaka Bahu melaksanakan tugas tersebut.  Karena ada yang mengganggu Jaka Bahu ketika sedang membabad hutan, ia bertapa untuk mencari sebabnya.  Akhirnya ia tahu yang mengganggu adalah lelembut yang di pimpin oleh Dadungawuk.  Selanjutnya terjadi perang antara Dadungawuk dengan prajurit Jaka Bahu.  Dadungawuk dapat dikalahkan dan berjanji tidak akan mengganggu Jaka Bahu dan prajuritnya.  Lalu pembukaan hutan itu menjadi lancar.
Jaka Bahu melanjutkan pembukaan Alas Roban ke arah barat hingga sampai di sungai yaitu sungai kramat.  Jaka Bahu berpikir untuk membuat bendungan di sungai untuk mengairi sawah.   Air bendungan itu kadang mengalir kecil, kadang juga deras. Hingga suatu ketika bendungan itu jebol. Jaka Bahu mencari penyababnya.  Ternyata ada tiang perahu besar yang melintangi bendungan. Prajurit Jaka Bahu tidak ada yang bisa menyingkirkan tiang itu.  Kemudian Jaka Bahu melakukan semedi di pinggir sungai agar mendapat kekuatan untuk dapat menyingkirkan tiang perahu tersebut. 
Waktu itu malam Jumat Kliwon. Ketika fajar, Jaka Bahu mendapat kekuatan sesuai yang diharapkan.  Jaka Bahu dapat menyingkirkan perahu itu dan mematahkannya.

Setelah perahu itu patah, aliran air menjadi lancar. Namun, gangguan datang lagi.  Entah apa sebabnya, bendungan itu jebol lagi.  Jaka Bahu tidak menyerah untuk mencari apa sebabnya.  Jaka Bahu akhirnya mengetahui kalau ada gapura di dalam bendungan. Yang punya adalah bangsa lelembut yang berwujud ular. Kerajaan lelembut itu dipimpin oleh Drubiksa.  Jaka Bahu tidak terima bendungan yang dibuatnya dihancurkan. Ia mengamuk di Kerajaan Drubiksa.  Prajurit Drubiksa banyak yang mati.
Drubiksa pun tidak terima.  Ia lalu menghadapi Jaka Bahu.  Jaka Bahu digigit dan dililit oleh  Drubiksa.  Dengan kekuatanya, Jaka Bahu dapat lepas dari lilitan Drubiksa.
Jaka Bahu berlari dan bersembunyi di kaputren.  Di sana ia bertemu adik Drubiksa yaitu Drubiksawati.  Drubiksawati jatuh hati pada Jaka Bahu.  Tapi karena mengetahui bahwa Drubiksawati adalah adik Drubiksa, Jaka Bahu memanfaatkanya untuk mencari kelemahan Drubiksa.  Dengan syarat Jaka Bahu harus menerima cintanya, Drubiksawati akhirnya mau membocorkan rahasia kekuatan kakaknya. Drubiksawati mencurikan pedang Swedang yang tak lain adalah sumber kesaktian Drubiksa.
Setelah Jaka Bahu mendapatkan pedang tadi, Jaka Bahu dan prajuritnya segera mencari Drubiksa.  Ia tidak berniat membunuh Drubiksa. Ia hanya ingin membuat kapok Drubiksa.  Jaka Bahu dan Drubiksa bertanding.  Mengetahui kalau pedang Swedang ada di tangan Jaka Bahu, Drubiksa berlati ke utara.  Jaka Bahu mengejarnya.  Kala Drubiksa pun dapat ditangkap.  Perang usai dan Drubiksa berjanji tidak akan mengganggu bangsa manusia lagi.  Drubiksa diberi tempat di Alas Roban bagian utara.
Pada saat Jaka Bahu dan Drubiksa bercakap-cakap, pedang Swedang tadi diletakkan di tepi sungai yang menikung yang disebut dang, sehingga sekarang tempat itu dinamakan daerah Klidang.  Tidak ada lagi yang mengganggu Jaka Bahu menyelesaikan bendungan tadi.  Jadi, tugas Jaka Bahu menyiapkan daerah untuk para petani di Alas Roban terselesaikan.
Atas kemenangan Jaka Bahu, warga di sekitar sungai senang dan membuat syukuran.  Syukuran tadi dinamakan Lomban.   Lomban tadi dijadikan tradisi oleh warga Klidang setahun sekali yang jatuh pada tanggal 1 syawal.
Karena kemenangan Jaka Bahu, Sultan Agung mengangkatnya menjadi Bupati Kendal.  Tetapi Jaka Bahu masih ditugasi menjemput Putri Retno Rantan Sari yang dititipkan di desa Kalisasak untuk diboyong ke Mataram. Sesampainya di Kalisasak, Jaka Bahu tertarik dengan keindahan desa itu.
Segera saja Jaka Bahu menuju ke rumah Pak Wongso.  Di sanalah Retno Rantan Sari dititipkan. Setelah Jaka Bahu menyampaikan maksudnya, Pak Wongso menyerahkan Retno Rantan Sari.  Jaka Bahu yang diutus Sultan Agung ternyata menaruh hati pada Retno. Padahal sebelumya Jaka Bahu sudah mengetahui bahwa Retno akan diperistri Sultan Agung.  Tetapi Retno juga jatuh hati pada Jaka Bahu.  Jaka Bahu menemui Ki Ageng Cempaluk untuk meminta wejangan.  Tidak disengaja di desa Kalibeluk ada gadis yang wajahnya sama dengan Retno Rantan Sari. Namanya Endang Muranti.
Jaka Bahu kemudian memboyong Endang Muranti ke Mataram dan menyerahkanya kepada Sultan Agung.  Pada awalnya, Sultan Agung tidak curiga. Sesampainya di istana, Endang Muranti pingsan melihat keindahan istana. Ketika sadar ia mengaku kalau sebenarnya ia bukan Retno Rantan Sari. Sultan Agung kecewa. Jaka Bahu dihukum.  Hukuman itu berupa tugas membuka hutan Gambiran.  Endang Muranti pun dikembalikan ke Sungai Baluk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar