Selasa, 02 Juli 2013

Babad Penggarit



Candi Panggarit dianggap sebagai makam dari Pangeran Benawa Putra mahkota kerajaan Pajang. Dengan gugurnya Arya Penangsang di medan laga, dibunuh oleh Sutawijaya dalam rangka sayembara yang diadakan Sultan Pajang, maka sesuai dengan janjinya akan diberi hadiah hutan Mataram. Rupanya Pangeran Hadiwijaya menyadari adanya usaha dari Ki Gede Pemanahan yang meminta hadiah hutan Mataram guna menghidupkan kembali jiwa mataram. Apalagi dalam kenyataanya, pada masa itu Ki Gede Pemanahan telah menjadi lurah Mataram pula.
Ternyata Sutawijaya telah berkali-kali menagih janji kepada Sultan Pajang, namun selalu ditangguhkan, maka akhirnya Sutawijaya pulang ke desa tempat tinggal ayahnya, yakni Mataram. Dalam hati, baik Sutawijaya maupun Ki Gede Pemanahan merasa sakit hati dan diam-diam melatih tentara dalam usaha melawan kekuasaan Pajang.
Selanjutnya diterangkan bahwa setelah Pajang kalah, Pangeran Benawa sebagai putra mahkota pajang terpaksa lolos atau pergi meninggalkan Pajang. Jelaslah bahwa Sutawijaya yang dalam kedudukan sebagai Kepala Prajurit Bayangkara Raja ternyata berhasil dan kemudian Sutawjaya bergelar sebagai Panembahan Senopati, yang berarti pimpinan tentara atau jendral. Pangeran Benawa menyerahkan tahta dan bahkan mengundang Senopati untuk menyerang Pajang dalam mengusir Arya Pangiri. Ini hanyalah sebuah ironi untuk menutupi maksud sebenarnya terhadap Senopati.
Ketika Pajang diduduki tentara Mataram atau tentara pemberontak, maka Pangeran Benawa sebagai putra mahkota  melarikan diri dan berusaha meminta bantuan. Mengingat Kerajaan Pajang di pedalaman, maka Pangeran Benawa pergi menyusur Jawa Tengah Utara dan terus ke Banten. Pangeran Benawa masih punya hubungan keluarga dengan Sultan Banten karena Pangeran Benawa adalah cucu Sultan Trenggono di Demak, sedangkan Sultan Banten adalah kemenakan Sultan Trenggono. Pangeran Benawa lebih meminta bantuan ke Banten daripada Demak karena Banten lebih bisa diharapkan.
Kepergian Pangeran Benawa dari Pajang ke Banten membawa tanda kebesaran atau ciri Kerajaan Pajang, yang berupa keris yang bernama Kiai Si Tapak, yang dianggap sebagai pusaka keraton. Banten bersedia membantu asal bertukar dengan keris dan Pangeran Benawa merasa keberatan. Akhirnya Pangeran Benawa menuju ke pamannya lagi dari pihak ibunya, yakni Sultan Cirebon. Namun Putri Cirebon secara langsung atau tidak langsung telah dianggap menjadi sebab gagalnya usaha Pangeran Benawa dalam usaha menyusun kekuatan melawan Senopati.
Ketika Pangeran Benawa masuk ke Pemalang tidak terus langsung masuk ke Kabupaten Pemalang, padahal Pemalang telah menjadi daerah Mancanegara dan sudah ada sebelum Demak yang dulu tunduk pada Sultan Pajang. Rupanya Pemalang sebagai mancanegara telah memihak Senopati. Kehancuran Pajang oleh Mataram tentu menimbulkan semangat Demak untuk hidup kembali dengan dicalonkannya Arya Pangiri, hingga dapat dipahami sebab Pangeran Benawa tidak meminta bantuan ke Demak. Jadi karena rasa dengki, dendam, dan perpecahan dalam keluarga sendiri terutama keturunan Trenggono merupakan sebab pula mengapa Senopati dapat memenangkan perang itu.
Kemudian Pangeran Benawa pergi ke arah timur, menuju desa Sungapan dan ditengah hutan ia bertapa di bawah pohon memohon kepada Tuhan agar diberi wangsit. Suatu hari Pangeran Benawa mengambil kerisnya yaitu Kiai Si Tapak dan bersabda “ keris ini akan ku goreskan di pang (ranting), jika nanti daunnya tidak rontok aku bisa jadi raja dan jika daunnya rontok aku tidak bisa jadi raja”. Seketika daunnya rontok berjatuhan dan sudah takdirnya dia tidak akan menjadi raja manusia, tetapi menjadi raja di alam gaib, terhadap sesama manusia hanya bisa bersosialisasi. Dari itu dinamakan Desa Panggarit. Berasal dari pang dan garit.
Itulah desa petilasan Pangeran Benawa bertapa dan terus bertapa sampai akhir hayatnya. Sepeninggalannya dimakamkan disana dan sampai sekarang menjadi pepunden yang sering diziarahi oleh banyak orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar