Sabtu, 07 September 2013

CANDI ARJUNA

Kelompok candi ini terdiri dari lima candi tersusun dalam dua deret, deret di sebelah timur terdiri dari empat bangunan candi yang semuanya menghadap ke barat candi Arjuna, candi Srikandi, candi Puntadewa dan candi Sembadra. Deret sebelah barat menghadap ke timur yaitu candi Semar yang berhadapan dengan candi Arjuna. Masing-masing candi memiliki ciri khas dan keindahan tersendiri, dan dibangun tidak bersamaan dengan tujuan untuk bermeditasi. Pada candi-candi ini selalu digambarkan dewa-dewa pendamping utama Siwa, kecuali pada candi yang istimewa yaitu candi Srikandi yang digambarkan pada relung-relung semu adalah dewa-dewa utama agama Hindu yaitu Brahma, Siwa dan Wisnu.

Jumat, 06 September 2013

ASAL-USUL KALIWIRO



            Kaliwiro adalah salah satu kecamatan di bagian selatan dari kabupaten Wonosobo. Kaliwiro memiliki luas 100,08 km2. Di mana secara geografis Kaliwiro terletak ditengah  sebuah lembah pada ketinggian 250 meter – 300 meter dpl. Diapit gunung Lawang di selatan dan bukit Dempes di sebelah utara. Dengan titik koordinat S7°27.510? lintang selatan dan E109°51.380? bujur timur.
          Dalam kurun waktu lima tahun sejak 1825 hingga 1830. Pasukan KRT Kertowaseso beserta santri-santri kyai Alwi banyak memperoleh kemenangan dalam perang gerilya. Sehingga laskar-laskar kyai Alwi ini begitu disegani dan ditakuti tentara Belanda. Karena begitu terkenal kehebatan dan keberanian semangat  juang laskar santri rakyat di daerah ini dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda, maka daerah ini kemudian terkenal dengan para perwira-perwira angkatan perangnya. Sehingga lambat laun daerah ini banyak disebut orang dengan sebutan daerah yang ditempati kyai Alwi dan para santri-santrinya yang sangat perwira. Asal kata Kaliwiro sendiri tersusun dari kata,  “Kali dan Wiro.” Kali berasal dari kalimat nama Kyai Alwi atau Ali atau Ngalwi. Sedangkan Wiro berasal dari suku kata bahasa Jawa “Prawiro”. Yang berarti Perwiro atau Perwira.

Kamis, 05 September 2013

ASAL-USUL SELOMANIK



            Selomanik berasal dari dua suku kata,  ‘Selo & Manik’. Selo berati batu dan Manik berarti permata. Dinamakan demikian karena di wilayah Selomanik terdapat dua buah batu besar yang konon menjadi pertapaan seorang tokoh Selomanik yang akan kita bahas di bawah ini. Dalam sejarah berdirinya Kadipaten Wonosobo tertulis bahwa cikal bakal Wonosobo bermula dari suatu kadipaten di wilayah Selomanik. Dimana bahwa pimpinan daerah Selomanik adalah Kanjeng Raden Tumenggung ( KRT ) Kertowaseso.
            KRT Kertowaseso adalah seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang setia ikut dalam perang gerilya. Untuk lebih jelas mengetahui sejarah siapa KRT Kertowaseso mari kita menelusuri latar belakang KRT Kertowaseso.

TELAGA WARNA


            Dahulu kala di kawasan puncak tepatnya di lereng Gunung Lemo kompleks Pegunungan Mega Mendung terdapat sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Kutatanggeuhan, nama kerajaan ini berasal dari kata “Kuta” yang berarti tempat dan “Tanggeuhan” yang berarti andalan. Kerajaan ini sering disebut Kerajaan Kemuning Kewangi. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Swarnalaya. Beliau didampingi oleh seorang permaisuri yang baik hati dan bersifat keibuan, bernama Ratu Purbamanah.
            Dalam masa kepemimpinan Prabu Swarnalaya, kerajaan ini mengalami masa keemasannya, negeri ini terkenal damai, subur, makmur, dan tentram. Tak ada satupun keluarga yang kekurangan sandang, pangan maupun papan. Walaupun demikian nampaknya Sang Prabu dan Permaisuri belum merasa bahagia. Mengapa? Karena setelah bertahun-tahun membina hubungan suami istri merek belum juga dikarunia seorang putra. Berbagai upaya telah dilakukan seperti meminum ramuan tradisional, konsultasi dengan dukun beranak,  dan berbagai usaha lainnya namun tidak berhasil. Hingga suatu hari, Sang Prabu memutuskan untuk bertapa (semedi) memohon bantuan Yang Maha Kuasa. Setelah sekian lama beliau bersemedi dengan khusuk, maka pada suatu hari beliau mendengar suara gaib yang berkata “Wahai cucuku Prabu Swarnalaya, apakah yang engkau inginkan? Mintalah kepada Tuhan-Mu!”

Rabu, 04 September 2013

CANDI DWARAWATI



Candi Dwarawati terletak paling timur di antara candi-candi di dataran tinggi Dieng, didirikan di bukit Perahu. Di lokasi ini dahulu ada dua buah candi yaitu candi Dwarawati dan Parikesit, ketika ditemukan keduanya telah runtuh berserakan, dan diperbaiki pada tahun 1955 dan candi Dwarawati direstorasi pada tahun 1980, telah banyak dikunjungi wisatawan.

ASAL-USUL KOTA WONOSOBO



            Berdasarkan cerita rakyat pada sekitar awal abad 17 M, tersebutlah tiga orang pengelana yang masing-masing bernama Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik, mulai merintis suatu pemukiman di daerah Wonosobo, Kyai Kolodete berada di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Karim berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik berada di sekitar Kota Wonosobo sekarang ini, dan sejak saat itu daerah ini mulai berkembang dan ketiga tokoh tersebut dianggap sebagai cikal bakal dari masyarakat Wonosobo. Pada masa Kerajaan Mataram, letak pemerintahan berada di Desa Selomanik sebagai kepala pemerintahannya adalah Ki Tumenggung Kartowaseso dan Ki Butowereng sebagai patihnya. Seperempat abad dari wafatnya Tumenggung Kartosuwiryo tersebut, pusat pemerintahan beralih ke Desa Pecekelan (Kalilusi) sebagai Kepala pemerintahannya adalah Ki Tumenggung Wiroduto, selang beberapa saat pusat pemerintahannya berpindah dari Kalilusi ke daerah Ledok Selomerto.

Selasa, 03 September 2013

ASAL USUL TEMBAKAU



            Tembakau merupakan ciri khas dari kabupaten Temanggung. Sebagian besar penduduk Temanggung sebagai petani tembakau, terutama di lereng gunung Sumbing dan gunung Sindoro. Pendapatan terbesar kabupaten Temanggung dari hasil tembakau ini.
            Konon menurut ceritanya, asal usul tembakau ini diperkenalkan pertama kali di Temanggung dari salah seorang Kyai, yang bernama Kyai Jugil Ararawar. Namun, menurut dari narasumber Tembakau sendiri berasal dari suku Batak.. Nama Kyai Jugil Ararawar ini berasal dari kata jugil yang berarti Linggis, dan kata Ararawar yang berarti mengkaburkan penglihatan orang. Jadi arti nama Kyai Jugil Ararawar adalah orang yang pandai mengkaburkan penglihatan orang dan  orang memiliki senjata berupa linggis.
            Pada jaman dahulu masyarakat lereng gunung sumbing memiliki kebiasaan madat atau ketergantungan dengan semacam ganja. Untuk menghilangkan kebiasaan ini, Kyai Jugil Ararawar menggunakan keahliannya di bidang pertanian untuk memperkenalkan penanaman tanaman tembakau. Cara ini berhasil hingga sampai saat ini  tembakau menjadi ciri khas kabupaten Temanggung.