Tanjung adalah desa
di kecamatan Ngombol,
Purworejo,
Jawa Tengah,
Indonesia. Mayoritas mata
pencaharian penduduk di desa ini adalah sebagai petani (sawah), dan 100%
penduduk memeluk agama Islam. Di desa ini terdapat bendungan (Siwatu) yang
membendung kali Jali yang digunakan untuk pengairan sawah pada musim kemarau.
Bendungan ini didirikan oleh Belanda pada tahun 1800an. Namun sekarang sudah
tidak tampak keasliannya sejak direnovasi pada tahun 2005. Di sungai ini juga
terjadi legenda tundan obor. Selain itu juga konon terdapat petilasan Prabu
Brawijaya di daerah Siwayut.
Sabtu, 14 September 2013
Jumat, 13 September 2013
TUK BIMALUKAR
Tuk
Bimalukar adalah sebuah mata air yang diyakini sebagai air yang memiliki
khasiat awet muda. Menurut cerita, barang siapa yang mandi atau mencuci muka
dengan air dari Tuk Bimalukar, maka oirang yang bersangkutan selalu ceria dan
awet muda, bahkan semangat hidupnya dapat meningkat.
Kamis, 12 September 2013
MITOS KERA DESA KALIGLAGAH
Rabu, 11 September 2013
LEGENDA SUMPAH “BANYU MENDIRO”
Akhir-akhir ini
kita “diramaikan” dengan sumpah yang diucapkan oleh para petinggi Negara untuk
meyakinkan bahwa apa yang dituduhkan pada jbs itu tidak betul. Konsekwensi atas
akibat yang ditimbulkan oleh sumpah tsb. sepenuhnya menjadi tanggung jawab yang
bersangkutan. Sumpah dikeluarkan secara sepihak . Namun apa yang ingin saya
kemukakan berikut ini adalah jenis sumpah lain yang nampaknya telah menjadi
bagian sebuah legenda sebagai sumpah “Banyu Mendiro”.
LEGENDA KAWAH SIKIDANG
Kawah
Sikidang merupakan kawah yang terpopuler dan terbesar di Dieng, disamping
letaknya yang mudah dijangkau fasilitas yang ada cukup lengkap, Seperti
Mushola, WC, Area Parkir dan Pusat Perbelanjaan. Hingga kini Kawah Sikidang
menjadi obyek wisata primadona dikalangan wisatawan.
Nama
Kawah Sikidang diambil dari kidang dalam bahasa Indonesia = Kijang. Binatang
ini memiliki karakteristik suka melompat lompat, Seperti halnya Uap air dan
lava berwarna kelabu yang terdapat di kawah sikidang selalu bergolak dan
munculnya berpindah-pindah bahkan melompat seperti seekor kidang / kijang.
Selasa, 10 September 2013
LEGENDA CANDI DIENG
Alkisah, sebuah pengembaraan Candra
Gupta Sandipala beserta Brahmana dan pengikut-pengikutnya di Wilayah
Banjarnegara. Sampailah mereka di sebuah lereng yang bernama Dieng. Mereka
disambut baik oleh Akuwu/Tetua dan masyarakat setempat. Hubungan baikpun terjalin semakin erat karena
persamaan visi dan misi dalam penyebaran agama Hindu. Eratnya hubungan ini
ditandai oleh pernikahan Candra Gupta Sandipala dengan Maha Tantri Nurisia,
putri dari Akuwu/Tetua Lereng Dieng
Kerjasana dan kebersamaan menguatkan perkembangan
sosial ekonomi, politik, dan budaya pada waktu itu, hingga tercetuslah satu ide
untuk mewujudkan satu tempat sebagai sarana peribadatan agama Hindu yaitu
Candi. Setelah
merencanakan tanpa melupakan tiga unsur penting seperti air, api, dan udara,
mereka lalu mulai menebang hutan/babat alas. Berbagai rintangan dihadapi. Gangguan makhluk jin
maupun gangguan fisik yang lain silih berganti. Hingga pada akhirnya berdirilah
Candi Dieng nan megah, perkasa, elok nan indah bak nirwana.
Senin, 09 September 2013
CANDI BIMA
Candi Bima terletak di
sebelah selatan candi Gatutkaca kurang lebih satu kilometer, dahulu
diperkirakan terdapat beberapa candi namun karena proses alam, hanya candi Bima
yang mampu bertahan, mempunyai tipe berbeda dengan candi-candi lain di Dieng
dan diperkirakan dibangun setelah candi Srikandi. Candi Bima menghadap ke timur
dengan denah candi berbentuk palang, yang menarik dari candi ini adalah pada
bagian atapnya yang sangat mirip bentuk shikara dan berbentuk seperti mangkuk
yang ditangkupkan, selain itu pada bidang-bidang tingkatnya dihiasi dengan
relung-relung yang melengkung dengan kepala tokoh dewa di dalamnya atau kudu.
Langganan:
Postingan (Atom)
