Kamis, 13 Juni 2013

Sejarah Kelahiran Brebes



Beberapa cerita rakyat tentang muncul/lahirnya beberapa nama desa-desa tertentu didalam wilayah Kabupaten Brebes memang ada. Misalnya nama desa Padasugih, Wangandalem, Gandasuli, Pasarbatang, Kersana, Ketanggungan dan sebagainya.  Namun itu semua hanya terlontar dari mulut ke mulut turun temurun. Tidak ada data pendukungnya untuk dijadikan bahan dalam penulisan sejarah lokal. Kalau saat ini sudah ada beberapa orang yang menyempatkan diri merekam cerita-cerita rakyat tersebut didalam bentuk tulisan, alhasil hanyalah merupakan rekaman belaka, yang tetapbelum menyandang bobot sebagai data penulisan sejarah. Sebuah kisah menarik mengenai lahirnya kota Brebes justru kita jumpai dalam Serat Kanda edisi Brandes.
Menurut kisah ini, setelah kerajaan Majapahit berdiri dan Raden Susuruh dinobatkan menjadi raja dari kerajaan yang baru itu dengan nama Brawijaya yang terjadi tahun 1221 Saka (tahun 1299 Masehi) dengan candra sangkala Sela-Mungal-Katon-Tunggal, sri baginda raja Brawijaya juga mengangkat Wirun menjadi pepatih dengan nama julukan Adipati Wirun,

Rabu, 05 Juni 2013

Filsafat Jawa, Ajaran Luhur Warisan Leluhur

Petis manis pupus tebu saupama, ~kepriye werdine . . .
Aja ngucap nora teges tanpa guna, ~kepriye karepmu . . .
Petis manis sarpa langking saupama, ~kepriye werdine . . .
Aja ngucap yen ta amung samudana
(Ki Narto Sabdo, Lagon "Petis Manis")

Sekarang ini, pencarian jati diri dalam kehidupan bermasyarakat sedang gencar-gencarnya.
Sudah banyak orang yang menyadari akan pentingnya kebudayaan tradisional, kebudayaan ini tetap dilacak untuk memahami jati diri bangsa sesungguhnya.

Aksara Jawa

Aksara Jawa, atau dikenal dengan nama Hanacaraka atau Carakan , adalah aksara jenis abugida turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawabahasa Makasar,bahasa Sunda, dan bahasa Sasak. Bentuk aksara Jawa yang sekarang dipakai (modern) sudah tetap sejak masa Kesultanan Mataram (abad ke-17) tetapi bentuk cetaknya baru muncul pada abad ke-19. Aksara ini adalah modifikasi dari aksara Kawi atau dikenal dengan Aksara Jawa Kuno yang juga merupakan abugida yang digunakan sekitar abad ke-8 – abad ke-16. Aksara ini juga memiliki kedekatan dengan aksara Bali. Nama aksara ini dalam bahasa Jawa adalah Dentawiyanjana.

Pambuka




Alhamdulillah semoga blog ini bisa menjadikan upaya dan niat kami untuk nguri uri (menjaga) budaya dan bahasa Jawa lebih maksimal lagi.
Blog ini akan diisi dengan cuplikan keanekaragaman budaya Jawa. Mulai dari filsafatnya yang luhur, materi pembelajaran untuk SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA.
Kami menerima banyak kritikan dan saran.

Terima kasih.

TIM SINAU BUDAYA JAWA

Senin, 03 Juni 2013

Asal Mula Desa Panggung

DI BAWAH rerimbunan pohon kamboja, makam itu tampak menonjol dari kejauhan. Agaknya memang sengaja dibangun dalam kapasitas keistimewaan tersendiri, karena bentuknya seperti makam raja-raja Jawa. Lokasi makam itu juga diberi benteng tembok sebagai pembatas dari makam-makam lainnya. Itulah makam Sunan Panggung atau orang Tegal menyebutnya Mbah Panggung.
Makam Mbah Panggung terletak di wilayah Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal. Siapakah sebenarnya Mbah Panggung atau Sunan Panggung itu? Dia adalah sama orangnya dengan Sunan Drajat, salah seorang Walisanga. Putra dari Sunan Ngampel atau Raden Rachmat dari istri yang berasal dari Campa. Dia, termasuk pangeran terpandai diantara saudaranya. Ia tidak suka berdiam diri di dalam istana kerajaan dibanding dengan Sunang Bonang, saudaranya, yang lebih suka mendekam di istana. Sebaliknya Sunan Panggung justru lebih memilih jalan pengembaraan untuk memperdalam ilmu Agama Islam.

Kalipah


Tersebutlah orang sakti mandraguna Sutadirana. Lebih dikenal dengan panggilan Mbah Suta. Seorang pendatang yang tengah melakukan perjalanan spiritual dari arah Barat menuju ke Timur.

Dalam perjalanan, sampailah dia di lapangan Dwi Windhu Pangkah, Kabupaten Tegal. Di lokasi itu Mbah Suta melihat ada lubang mata air sebesar pipa di bawah pohon rindang dan berhawa lembab. Mbah Suta tertarik akan lokasi itu karena ada getaran tertentu. Di situ, akhirnya dia melakukan tapa.

Ternyata, tanpa disadari oleh Mbah Suta, lubang tersebut merupakan pintu keluar masuk singgasana Ratu Siluman Buaya Putih. Tak heran kalau lama ke lamaan hawa di dalam Kerajaan Siluman menjadi panas.“Bumi bawah tanah bagai terbakar. Panas, panas….” teriak para siluman bertelanjang dada sambil belarian.

“Ada apa ini? Matahari seperti tak bersinar, gelap dimana-mana. Angin tak berhembus, panas sedemikian rupa rasanya mau membakar seluruh isi istana”.

Di dalam kegerahan, mereka berlari saling bertabrakan. Satu sama lain ingin mengetahui asal penyebab masalah. Keriuhan dan kebisingan menghampar ke seluruh sudut-sudut istana. Di tempat pembaringan, Ratu Silumah Buaya Putih merasakan juga hal yang sama. Panas membakar dan kekisruhan anak buahnya mengganggu benar tidur siang Sang Ratu. Dengan marahnya, dia segera ke luar dari kamar. Di lihatnya para anak buah berkelojotan dan berlari-lari pontang-panting.

“Hai, hai! Kenapa kalian saling berlarian. Apa yang terjadi?!” teriak sang Ratu pada mereka. “Mohon ampun Kanjeng Ratu, apakah Kanjeng Ratu tidak merasakan hawa di dalam kejaraan ini demikian panas? Bumi rasanya seperti dikucur bara timah yang meleleh begitu deras,” kata salah satu dari mereka.

Sang Ratu tanggap sasmita. Ia segera mengheningkan cipta, mematikan rasa, pikir dan seluruh panca indra. Sesudah itu, ia menyuruh anak buahnya menyelidiki apa yang terjadi di luar kerajaan. Bagai anak panah yang melesat dari busurnya, seluruh anak buah berhaburan ke atas. Tapi berulangkali menembus atas bumi, mereka gagal. Bumi seakan dilapisi berton-ton baja tanpa mampu ditembus. Mereka akhirnya kembali menghadap Kanjeng Ratu. “Mohon ampun Kanjeng Ratu. Kami tak sanggup menembus lapisan bumi. Lapisan bumi serasa terlapisi baja dan tak dapat dilewati oleh kami,” ujar mereka.
Kanjeng Ratu terpaksa turun tangan. Dengan kekuatan yang dimiliki, ia menembus pori-pori bumi. Sampai di atas, dilihatnya Mbah Suta sedang duduk bersila dengan mata terpejam dan kedua tangan bersedekap.

Minggu, 02 Juni 2013

Keraton Pringgodani



Dongeng atau cerita yang hidup di plawangan  khususnya dan di kabupaten pemalang umumnya, tentang keraton pringgodani. Cerita ini didapat dari bapak karmin , 80 thn. Juru kunci candi plawangan.
Pada zaman dulu di plawangan ada kerajaan namanya pringgodani, yang di perintah oleh keluarga hari. Rja ini berwujud raksasa, dan mempunyai kebiasaan makan daging orang.
Raja pertama bernama prabu harimboko atau lebih dikenal tremboko.
Pada suatu hari, sang raje meminta giliran kepada salah satu penduduk yang menerima giliran untuk mengantar manusia. Karena susahnya, keluarga itu siang malam tidak dapat memutuskan siapa yang harus diserahkan, dirinya, istrinya atau anak tunggalnya. Malam selum gilirannya, di rumahnya menginap seorang pemuda yang mengaku bernama brotoseno yang karena mendengar kesusahan keluarga itu dan karena merasa sudah berhutang budi karena sudah bisa menginap, ia bersedia untuk menjadi pengganti keluarga itu.
Paginya brotoseno diantar ke hadapan sang raja yang kebetulan menghadap pula putrinya yang bernama dewi harimbi.
Putri itu tertarik kepada pemuda yang akan menjadi korban ayahnya itu dan memohon kepada ayahnya agar agr untuk kali ini pemuda itu jangan dijadiakan korban. Sayang sang prabu sudah sangat lapar, maka segala permohonan putrinya itu tidak dikabulkan.
Brotoseno segera akan dimakan, tetapi sang prabu terkejut, sebab kulit pemuda ini sangat keras seperti baja dan giginya tidak mampu melukai kulit brotoseno.
Akhirnya kemarahannya yang tak terkendalikan, terjadilah perkelahian antara prabu tremboko dengan brotoseno yang berakhir gugurnya prabu tremboko.
Sepeninggalan prabu tremboko, pringgodani di pimpin anak sulungnya yang bernama prabu harimbo.
Pada suatu hari, dewi harimbi sebagai adiknya harimbo, meminta izin untuk kawin dengan brotoseno, tetapi kakaknya menolak mentah-mentah dengan alasan bahwa brotoseno telah membunuh ayahandanya, jadi dia adalah musuh, bahkan dewi harimbi diusir.
Lalu prabu harimbo marah dan menantang berkelahi dengan brotoseno dan terjadilah perkelahian dengan seru. Dalam perkelahian itu prabu harimbo kalah dan mayatnya dilempar ke sungai. Karena rambutnya panjang menurut kepercayaan penduduk rambut itu sering terlihat di sunai itu dan sejak itu sungai terlihatnya rambut prabu harimbo disebut sungai rambut.
Sepeninggalan saudaranya, dewi harimbi yang menggantikan sebagai ratu, mempunyai keraton dua, yakni di barat sebagai keraton lama terletak di plawangan dan di timur di pinggir sungai comal.
Dari cerita diatas, penyusun dapat mengambil intisarinya. Lepas dari benar tidaknya dongeng rakyat plawangan, perlu dicatat bahwa:
1. Di plawangan ada kerajaan yang menurut dongeng rakyat setempat namanya kerajaan “pringgodani”. Sementara sumber cina menyebutkan kerajaan “holing” yang oleh sejarawan indonesia sering dinamakan dengan nama kalingga. Jadi, “pringgodani” identik dengan kalingga.
2.  Keluarga raja yang memerintah adalah keluarga ari(arimba). Sementar raja putri arimbi kalau dibandingkan sumber cina dan barat, mungkin sama dengan dewi sima yang menikah dengan keluarga kerjaan mataram yang pertama yaitu sanaka(samaha) yang oleh penduduk diartikan sena,yang oleh dongeng disamakan dengan brotoseno, yang sudah beragama hindu.
3.  Rajanya berwujud manusia raksasa, mungkin agamanya belum hindu (pemujaan nenek moyang). Dari catatan ini jelas bahwa kerajaan kalingga(pringgodani), namun versi rakyat sesuai kerajaan tarumanegara dan seraman awal mataram pertama (era raja sanaka ayah raja sanjaya). Tegasnya di plawangan patut diduga letak kerajaan hling atau kalingga yang oleh penduduk dinamakan kerajaan pringgodani.
Lepas dari benar tidaknya dongeng rakyat plawangan, ada suatu bukti yang tidak bisa disangkal, bahwa di derah plawangan telah ditemukan bukti-bukti arkeologi sebagai fakta historis, yang seakan-akan membenarkan dongeng rakyat plawangan.
Keraton sirawung atau si geseng
      Dongeng rakyat yang mengenai daerah ini banyak ragamnya yang pada hakekatnya dongeng-dongeng itu menganggap bahwa di hutan sirawung atau si geseng pada zaman dahulu adalah sebuah kerajaan.
Adapun inti-inti cerita itu sebagai berikut:
1.  Orang-orang plawangan mengatakan bahwa daerah sirawung dulu merupakan bagian dari pringgodani dan pernah menjadi tempat pelarian dewi harimbi yang diusir oleh kakaknya yang tidak setuju dia kawin dengan brotoseno.
2.    Menurut juru kunci candi si geseng, daerah itu disebut jamban dalem. Disebut sirawung karena rakyat keraton itu, yang berupa lelembut atau makhluk halus yang dapat bergaul(srawung) dengan manusia biasa. Bernama si geseng artinya si gelap, si hitam, sebab tempat itu tempat yang gelap bagi manusia biasa.
3.  Menurut oarng pemalang, kanjeng swargi atau kanjeng raden arya adipati reksoprojo yang wafat tahun 1825, yang tidak mau tunduk kepada VOC untuk menangkap pangeran diponegoro pernah menghilang atau mengungsi ke keraton sirawung. Demikian juga kanjeng raden tumenggung ronggo soero adi negoro yang wafat tahun 1862, pernah bertandang ke keraton sirawung.
      Pangeran Benawa juga masih hidup dan berkedaton di sirawung.
4. Bapak williem otto machenzie,dengan bersumpah mengatakan, bahwa beliau waktu rumahnya masih di gembol manis, yakni di hutan sirawung, tiap malam rombongan pemukul gamelan lewat di depan rumahnya dan anjing-anjing beliau tidak berani menyalak dan hanya duduk. Jadi ada suara tapi tidak ada rupa.
5.  Cerita para nahkoda kapal asing yang kapalnya kandas di pantai hutan sirawung, menerangkan bahwa pada umumnya mereka melihat sebuah pelabuhan. Juru kunci yang sudah berusia lebih dari 100 tahun pernah menyaksikan empat kali kapal kandas.
Bapak willem otto machenzie juga membenarkan bahwa kapal-kapal yang kandas, katanya sebab diwaktu malam melihat pelabuhan.
Kapal kandas yang terakhir adalah di tahun 1956, yakni kapal inggris yang memuat gambir dan tekstil.
Lepas dari benar tidaknya beberapa cerita rakyat di daerah pemalang tentang hal-hal yang ajaib di hutan sirawung, pada pokoknya ada persamaan motif, yakni bahwa di sirawung zaman dahulu ada sebuah kerajaan.
Kesimpulan:
a.   Di sirawung ada sebuah tempat yang disebut jamban dalem, nama kerajaan setempat tidak tahu.
b. Adanya pertemuan dan peninggalan historis yang ditemukan di daerah itu, mendekatlan “kebenaran” dongeng rakyat setempat dengan fakta historis.
Tempat gelap ini tetap gelap, nama si geseng cukup membuat rakyat setempat tidak berani sembarang menyebut, hingga tempat itu gelap.